Forum Wartawan Jaya Indonesia (FWJI) Korwil Tangerang kota Gelar Aksi Depan KCD Pendidikan Prov Banten

Globaliconnews.idTangerang , Buntut dugaan perundungan (buyling) yang di lakukan diduga oleh oknum pemilik yayasan Islam Al Ayaniah inisial S terhadap salah satu siswa XII inisial M berujung Aksi demo oleh salah satu Forum Wartawan di wilayah kota Tangerang.

 

Pasalnya S kerap kali ringan tangan sebelumnya pernah memukul siswa yang tka hendak berangkat PKL bersama temannya, ketika oknum S melihat siswa inisial G di gampar oleh S tanpa sebab dan bertanya lebih dahulu, menjadi pertanyaan M temannya.

 

Saat menanyakan ke S kenapa menggampar G inisial M di pukul dari belakang oleh sendal dan di gampar 2x oleh S, meskipun kejadian tersebut di lerai oleh para guru ini menjadi sebuah contoh yang tidak baik yang di lakukan S apa yang dilakukannya bisa menciderai nama baik sekolahnya sendiri.

 

M merasa tidak terima di perlakukan seperti itu, lalu menelepon ayahnya yang di mana ayahnya bekerja sebagai jurnalis di salah satu PT media sekaligus ketua forum Wartawan jaya Indonesia (FWJI) korwil Tangkot.

 

Mendapati laporan anaknya ayah M meminta M untuk pulang dan menceritakan apa yang terjadi sehingga S memukul dan menggampar nya.

 

‘Aku Ama Gilang absensi sekolah karena mau PKL tiba tiba S berteriak mau kemana kamu lalu menggampar G, ya aku tanya kenapa mukul G Bu, bukannya menjawab baik malah memukul belakang kepala aku gatau pake apa Ampe aku puyeng, terus menggampar pipi aku dua (2)x ,” Ujar M.

 

Mendapati laporan tersebut ayah M menelepon salah satu guru inisial SR dalam percakapan tersebut SR membenarkan apa yang di lakukan S terhadap M.

 

‘Iya pak betul dan belakang kepalanya di pukul pake sendal, terus di gampar 2 kali, di pisahkan sama gurunya juga,” ucapnya.

 

‘Baik kalau begitu saya akan visum anak saya lalu buka LP ke polres,” jawab ayah M.

 

Ketika hendak melakukan visum guru SR memohon agar kiranya bisa bertemu karena S menyesali perbuatannya dan tidak akan mengulanginya lagi.

 

Sebagai orang tua yang anaknya di lakukan tidak pantas apalagi ada unsur kekerasan oleh oknum S sebenernya tidak terima cuma karena melihat anak yang kelas 12 ini sebentar lagi lulus akhirnya mengizinkan S beserta 3 guru pendamping menemuinya.

 

Pertemuan tersebut S mengaku menyesali perbuatannya, bahkan menangis memohon agar di maafkan oleh ortunya M juga M. Melihat itu ibalah hari sang ayah bahkan dalam pertemuan tersebut S membebaskan biaya SPP dan uzian untuk M nanti di bantu pelulusan mah kata S.

 

Mendapati niat tulus S ayah M akhirnya memaafkan S bahkan berjanji akan merayu M untuk sekolah lagi, dan tidak mempersoalkan apa yang sudah terjadi demi sekolahnya yang sebentar lagi lulus.

 

M sudah trauma sebenernya tidak mau sekolah lagi, malu dan takut berkecamuk di pikirannya, namun karena ayahnya meminta agar lanjut apalagi mau daftar polisi sayang kalau ga sekolah, akhirnya M melanjutkan sekolahnya.

 

Seiring perjalanan waktu, seringkai S mengulang kembali bahkan bukan hanya ringan tangan, setiap berbicara di depan siswa siswi selalu menyindir M dengan bahasa sindiran yang membuat M jadi malu.

 

Bukan sampai di situ saja S kerap kali menyebut memiliki bekingan polisi, kenal dengan Kapolres diduga untuk menakut nakuti siswa, agar takut kepadanya dan tidak melapor ke ortunya kalau dia menggampar siswa.

 

Tidak sampai di situ belum lama ada adik kelas M kena gampar saat pemindahan meja sekolah masuk kelas, anak tersebut tidak tahu kalau ada S mau masuk kekelasnya yang di kunci olehnya dengan niat bercanda dengan temannya, melayang lah tangan S mendarat di pipi siswa tersebut, ini menjadi catatan buruk untuk nama sekolah yayasan Islam Al Ayaniah, yang dimana oknum S ringan tangan.

 

Dengan mendapat perlakuan kembali yang tak adil yang di alami oleh M, di saat uzian karena belum bayar uzian M kartu ulangannya pun di ambil oleh guru sedangkan temannya belum bayar uzian tidak di ambil, disitulah ortu M mendatangai KCD Pendidikan Prov Banten untuk melaporkan kejadian dugaan perundungan yang di duga di lakukan oleh oknum sekolah SMK teknologi dan oknum pemilik yayasan Islam Al Ayaniah.

 

Saat mengadukan memang sempat membuat bingung KCD yang dimana nama SMK Al Ayaniah tidak ada adanya SMA Al Ayaniah, mungkin SMK teknologi Indonesia Islam Al Ayaniah yang memang satu gedung dengan SMA Al ayaniah.

 

Karena belum dapat nomer kepseknya akhirnya ayah M meminta izin untuk pulang dan dari pihak KCD meminta nomer telp nya setelah mengetahui nya akan segera memberitahukannya kepada ayah M.

 

Hari demi hari dilewati belum ada informasi dari pihak KCD ayah M seorang jurnalis merilis dan mengirim rilisan tersebut ke kadisprov Banten H.Jamaludin namun tidak ada tanggapan.

 

Di situlah kita akhirnya tahu cermin seorang pejabat publik , H Jamaludin selaku kadispen prov Banten yang baru menjabat hanya meread namun tidak membalas wa nya maka itu ayah M mengadakan aksi yang tujuannya agar kiranya para pengawas di KCD bisa segera menuntaskan persoalan dugaan perundungan dan dugaan intimidasi tersebut.

 

Dalam aksi yang di gelar hari Rabu 17 Desember 2025 yang di warnai hujan badai aksi tetap berlanjut, meskipun banyak rekan yang terhalang hujan sehingga memilih putar balik, aksi tetap di gelar dan berjalan kondusif.

 

Aksi berakhir dengan mediasi di hadiri kepsek SMK teknologi Indonesia dan staf KCD, juga di hadiri oleh Kapolsek Tangerang AKP Suyatno dan Babinsa TNI AD.

 

Cecep yuliardi berharap agar kiranya H bayuni sebagai Kabid pendidikan dapat membantu persoalan ini, apalagi pemerintah mendorong keras dunia pendidikan untuk, bersama sama dengan lembaga dan masyarakat untuk memberikan edukasi bahayanya buyling verbal di setiap sekolah, yang bisa menyebabkan anak menjadi trauma bahkan ada yang sampai berdampak kematian dengan melakukan bunuh diri.

 

‘Kan aku bilang Ama papih harusnya jangan mau damai, akhirnya aku jadi bahan omongan di belakang oleh oknum guru dan oknum S pemilik yayasan,” kata M ke ayahnya

 

‘Dampak Bullying yang Fatal

Perundungan, baik secara verbal, fisik, maupun siber, dapat menyebabkan tekanan mental yang ekstrem pada korban, memicu depresi, gangguan kecemasan, dan dalam kasus terparah, keinginan untuk bunuh diri. Data dari KPAI menunjukkan bahwa puluhan kasus bunuh diri anak di Indonesia sepanjang tahun 2025 didominasi oleh akibat perundungan oleh teman temannya, sedangkan yang di alami oleh anak saya di lakukan diduga oknum pemilik yayasan dan oknum guru, dan saya tidak mau terjadi pada anak saya makanya saya menggelar aksi,” tutup cecep

 

 

(Maryo)

editor's pick

latest video

news via inbox

Nulla turp dis cursus. Integer liberos  euismod pretium faucibua

Leave A Comment