Fenomena Mati Suri sebagai Jalan Mengenal Alam Akhirat
Oleh: Setyatuhu
Globaliconnews.id – Fenomena mati suri memang sesuatu yang tak lazim walaupun banyak orang yang pernah mengalami. Mati suri merupakan kondisi ketika seseorang dinyatakan tidak bernyawa untuk sementara waktu, namun kemudian hidup kembali. Banyak yang meyakini bahwa pengalaman ini menjadi semacam “jendela kecil” menuju alam akhirat. Beberapa orang yang pernah mengalami mati suri menceritakan pengalaman-pengalaman spiritual yang luar biasa: melihat cahaya terang, merasakan kedamaian yang mendalam, hingga bertemu sosok atau suara yang memberi pesan tertentu.
Walaupun belum dapat dijelaskan sepenuhnya oleh ilmu kedokteran atau sains, fenomena ini membuka ruang refleksi bagi banyak orang. Mati suri sering dianggap sebagai kesempatan kedua yang diberikan Tuhan, sebagai pengingat bahwa kehidupan di dunia hanya sementara. Pengalaman ini pun sering kali mengubah pandangan hidup seseorang, menjadikannya lebih religius, rendah hati, dan penuh syukur.
Namun demikian, penting juga untuk menyikapinya secara bijak. Tidak semua pengalaman mati suri bisa dijadikan patokan mutlak tentang kehidupan setelah mati. Tapi setidaknya, fenomena ini mengajak kita untuk merenung lebih dalam tentang makna kehidupan, kematian, dan persiapan menuju akhirat.
Penulis (Setyatuhu) pernah juga mengalami mati suri di usia remaja. Dari pengalaman mati suri tersebut akhirnya perlahan rahasia mati suri mulai terungkap. Benarkah fenomena mati suri yang terjadi pada diri seseorang merupakan kematian yang sesungguhnya? Apakah pengalaman mati suri setiap orang selalu sama? Nah melalui tulisan ini kita akan membedah sedikit keajaiban dari fenomena mati suri yang dialami seseorang.
Ada beberapa kategori mati suri yang dialami seseorang. Pertama: mati suri terjadi karena hadirnya ilmu turunan atau hadirnya ilmu para leluhur. Orang yang mengalami mati suri seperti ini, umumnya setelah ia sadar memiliki kelebihan. Seperti memiliki indra keenam, pandai mengobati penyakit tanpa proses belajar, menjadi ahli supranatural, ahli meramal, dan lain-lain. Dan kebanyakan orang-orang yang ahli di bidang ini karena memang ketitipan ilmu dari para leluhurnya.
Kemudian ada mati suri terjadi bagian dari rekayasa alam bawah sadar. Seseorang yang mengalami mati suri seperti ini biasanya melihat objek-objek yang selama ini ia ketahui dari cerita-cerita. Misalnya: membaca buku tentang alam akhirat, atau mendengar ceramah dari guru-guru agama yang menjelaskan tentang alam akhirat, surga dan neraka, kemudian tentang para malaikat. Nah, cerita-cerita tersebut akhirnya terekam di memori otaknya sampai ke alam bawah sadar, dan tatkala ia mengalami mati suri, koma, atau pingsan, maka objek-objek tersebut lah yang muncul dilihatnya.
Dari kedua fenomena mati suri tersebut tidak menjamin bahwa kelak jiwa seseorang yang mati akan menyaksikan apa yang dialami oleh orang yang mati suri tersebut. Sebab tidak semua jiwa yang meninggal dunia mengalami atau merasakan hal yang sama dari jiwa-jiwa yang sudah mati sebelumnya.
Umumnya orang yang pernah mengaku mati suri masuk pada kategori yang kedua. Yakni, mati suri karena rekayasa alam bawah sadar. Ini menarik sekali untuk kita bahas. Karena mati suri seperti ini berhubungan dengan kinerja otak manusia.
Kita semua tahu bahwa Tuhan menciptakan otak manusia dengan sangat sempurna.
Seorang yang ahli atau pandai meneliti otak dan organ tubuh manusia yang biasa disebut ahli anatomi dan ahli neurologi menjelaskan bahwa otak manusia banyak fungsinya. Ada otak besar otak kecil, ada otak kanan otak kiri, ada pula yang disebut batang otak, sistem limbik, kemudian amigdala, hipocampus, sampai pada kelenjar pineal dan masih banyak lagi nama-nama bagian otak manusia.
Masing-masing bagian dari otak manusia ini memiliki fungsi. Ada otak fungsinya untuk bermimpi. Makanya kita saat tidur bisa bermimpi. Karena mimpi itu nyata, ada objeknya, tetapi bukan kenyataan. Ada otak fungsinya untuk menghayal, ada otak fungsinya untuk berpikir, berimajinasi, berhalusinasi, berilusi, juga ada otak fungsinya untuk mencipta, sugesti, dan lain-lain.
Kemudian ada otak kosong di tengah yang fungsinya hanya menerima informasi dari luar diri. Lalu fungsi otak ini akan merekam dan menyimpan segala macam informasi, baik yang didengar, dilihat maupun diucapkan.
Apabila informasi yang diterima salah, namun diyakini sebagai suatu kebenaran, maka otak yang fungsinya pencipta akan menciptakan suatu objek sesuai dengan apa yang telah diyakini. Nah, objek-objek seperti inilah yang kadang muncul di saat seseorang mengalami pingsan atau mati suri.
Contoh: cerita tentang surga dan neraka dan malaikat penyiksa. Para tokoh-tokoh agama seringkali bercerita tentang alam akhirat, yang dibingkai dengan kenikmatan surga dan penderitaan neraka. Cerita-cerita tersebut bagian dari persepsi maupun argumen dari para tokoh-tokoh agamawan, yang sebenarnya itu tidak mutlak kebenarannya. Tetapi apabila itu diyakini sebagai kebenaran, maka otak kita yang fungsinya pencipta akan menciptakan objek-objek yang sesuai dengan cerita-cerita tersebut. Sampai pada akhirnya ketika jiwa keluar dari raga maka objek-objek tersebutlah yang tampak terlihat jelas.
Hubungan antara jiwa dan otak manusia sangat terkait. Bahkan Ruh pun “bersemayam” di bagian kepala. Tepatnya bagian depan. Jadi, apapun yang kita pikirkan dan persepsikan tentang alam akhirat, neraka, surga, itu semua hanya ada di kepala. Persepsi-persepsi tersebut akhirnya menjadi bayangan yang selalu ada ke mana pun jiwa berada.
Jurnalis (Aris)
(Part One)
editor's pick
latest video
news via inbox
Nulla turp dis cursus. Integer liberos euismod pretium faucibua