Fenomena Mati Suri Sebagai Jalan Mengenal Alam Akhirat

Last Updated: 21 Mei 2025By Tags: , , , , , , ,

Bagian 2

“Ana ‘inda ẓanni ‘abdī bī, fa-l-yaẓunn biya mā shā’a.” (Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, maka hendaklah ia berprasangka kepada-Ku sesuai yang ia kehendaki.) Kalimat ini adalah hadits Qudsi yang sangat familiar di kalangan umat beragama Islam. Aku yang dimaksud di sini adalah Tuhan, Tuhan Maha Pencipta alam semesta dan Pencipta manusia. Namun ada kejanggalan dari kalimat tersebut, seolah Tuhan sebagai Sang Pencipta tidak memiliki wewenang khusus, sehingga kita manusia bisa “memperlakukan” Dia dengan kehendak bebas.

Akan tetapi, apabila seorang hamba memiliki kesadaran tentang “keberadaan” Tuhan pada dirinya, maka kalimat “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku” menjadi tepat. Sebab, Tuhan dengan yang diciptakan-Nya adalah satu.

Dengan kesadaran bahwa Tuhan dan ciptaan-Nya menyatu dalam keberadaan yang hakiki, maka hubungan antara manusia dan Tuhan tidak lagi bersifat dualistik yang satu menciptakan dan yang lain hanya menerima. Dalam tingkat kesadaran ini, manusia tidak lagi memandang Tuhan sebagai sosok yang jauh, tetapi sebagai realitas yang hadir di dalam dirinya, di balik tiap gerak napas dan lintasan pikiran.

Maka, ketika hadits Qudsi itu menyatakan, “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku,” hal tersebut bukan berarti Tuhan tunduk pada kehendak manusia, melainkan menunjukkan bahwa kualitas hubungan seorang hamba dengan Tuhannya dibentuk oleh persepsi dan kesadarannya sendiri. Jika prasangkanya baik, maka Tuhan akan tampak dalam hidupnya sebagai sumber kebaikan, rahmat, dan pertolongan. Sebaliknya, jika prasangkanya buruk, penuh keraguan, ketakutan, dan ketidakpercayaan, maka pengalaman spiritualnya akan menjadi buram.

Inilah letak keistimewaan manusia yang diberi kemampuan untuk mengenal dan menyadari keberadaan Tuhan melalui perjalanan batin dan pemaknaan. Dalam makna ini, “prasangka” bukan sekadar pikiran positif atau negatif, tetapi cerminan dari kedalaman iman dan pengenalan diri. Karena mengenal diri sejatinya adalah mengenal Tuhan, sebagaimana ungkapan: “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu.” (Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.)

Dalam dimensi ini pula, kehendak bebas manusia menemukan nilai sejatinya. Bukan sebagai bentuk penentangan terhadap kehendak Ilahi, melainkan sebagai wahana untuk menyatu dengan kehendak itu sendiri dalam kepasrahan yang sadar, dalam keyakinan yang tumbuh dari cinta, bukan dari ketakutan.

Kalimat “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku” dapat dibaca sebagai pengakuan akan peran sentral dari keyakinan batin dalam membentuk relasi spiritual seseorang.

Dalam psikologi, ada konsep self-fulfilling prophecy, yaitu ketika keyakinan seseorang terhadap suatu hal mempengaruhi sikap dan tindakannya, sehingga hal itu menjadi kenyataan. Hadits ini seolah mengisyaratkan prinsip yang serupa dalam hubungan manusia dengan Tuhan: keyakinan yang mendalam akan kasih sayang dan rahmat Tuhan akan membentuk cara seseorang menjalani hidup dengan harapan, ketenangan, dan kepercayaan diri.

Sebaliknya, apabila seseorang selalu mencurigai Tuhan, merasa Tuhan murka, menjatuhkan hukuman, penyiksa, atau tidak menyayanginya, seperti yang sering kita dengar dari kodbah para guru agama, maka cara ia memandang hidup pun akan menjadi berat, gelap, dan penuh kecemasan. Ini bukan berarti Tuhan berubah-ubah sesuai anggapan manusia, tetapi karena pikiran manusia menciptakan pengalaman spiritualnya sendiri.

Dalam kerangka ini, manusia bukan menciptakan Tuhan sesuai bayangannya, melainkan membuka atau menutup pintu kesadarannya terhadap sifat-sifat Tuhan yang memang Maha Luas. Tuhan tidak berkurang karena disalahpahami, dan tidak bertambah karena dipahami dengan benar. Namun manusialah yang diuntungkan atau dirugikan oleh prasangkanya sendiri.

Dengan demikian, hadits ini juga dapat dimaknai sebagai ajakan untuk mengasah batin, membangun relasi yang sehat dengan Tuhan, yang pada akhirnya juga berdampak langsung pada kesehatan mental dan emosi seseorang. Tuhan menjadi sosok yang menguatkan, bukan menakutkan. Tempat pulang, bukan tempat menghindar.

Lalu, apa hubungannya antara hadist tersebut dengan pengalaman seseorang saat mati suri. Nah, di sinilah kita perlu kecerdasan saat mendengar cerita pengalaman seseorang yang mati suri.

Di atas sudah dijelaskan bahwa setiap pengalaman mati suri seseorang berbeda-beda tergantung pada tingkat pemahaman dan kesadaran masing-masing diri. Apabila kesadaran seseorang masih rendah, mudah dipengaruhi oleh persepsi atau argumen dari luar dirinya, maka jiwanya akan dibentuk oleh persepsi yang diyakininya.

Otak sebagai perangkat penting dalam berpikir dan memahami kehidupan akan menciptakan suatu peristiwa yang akan menentukan kehidupan diri kita. Jiwa dengan perasaannya akan dipengaruhi oleh apa yang kita pikirkan dan kita yakini.

Nah, dalam hal ini kita jangan mudah percaya terhadap ucapan atau kata-kata yang disampaikan oleh siapapun yang berhubungan dengan jiwa atau ruh manusia. Karena banyak umat yang beragama gagal dalam memahami firman Tuhan di dalam kitab sucinya.///(C2p)

Bersambung

editor's pick

latest video

news via inbox

Nulla turp dis cursus. Integer liberos  euismod pretium faucibua

Leave A Comment