Fenomena Mati Suri Mengajarkan Kita Untuk Mengenal Sejatinya Diri – Part 8
Redaksi – Globaliconnews.id – Dalam pandangan penulis, mengantarkan jiwa orang yang telah lama meninggal dunia tidak cukup hanya dengan membacakan doa saja, perlu dituntun, diarahkan ke jalan pulang yang benar. Karna hakikatnya, bagi jiwa yang belum mengenal jalan pulang, maka ia perlu diberi tahu jalan untuk pulang. Jiwa yang tidak mengenal jalan pulang ini disebut sebagai jiwa yang buta.
“Dan barang siapa di dunia ini buta, maka di akhirat nanti dia akan lebih buta dan lebih tersesat dari jalan yang benar.”
(QS. Al-Isra: 72)
Sebab tanpa bimbingan, jiwa itu akan terus berputar dalam lingkaran keterikatan duniawi yang belum selesai. Mereka yang semasa hidupnya tidak sempat mengenal cahaya kebenaran, atau terlalu lama terjebak dalam kabut nafsu dan kelalaian, akan kesulitan menemukan jalan pulang sendiri. Maka, tugas para yang hidup, terutama mereka yang memiliki kesadaran spiritual, bukan hanya sekedar mendoakan, tapi juga menjadi penunjuk arah, lentera di tengah kegelapan perjalanan jiwa.
Menuntun jiwa bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan sembarangan. Dibutuhkan ketulusan, kejernihan batin, dan pemahaman tentang peta ruhani. Karena jalan pulang itu bukan berupa arah timur atau barat, melainkan sebuah jalan batin menuju Cahaya Asal, yang dalam banyak tradisi disebut sebagai Tuhan, Sumber, atau Yang Maha Esa.
Dalam tradisi spiritual tertentu, para guru dan orang-orang suci sering menuntun jiwa melalui laku-laku batin seperti dzikir, puja, atau pembacaan mantra yang menyimpan resonansi suci. Resonansi inilah yang dapat menembus kabut tipis di antara dunia, membuka gerbang cahaya agar jiwa tidak tersesat dalam kesendirian yang panjang. Maka, sungguh benar bahwa jiwa-jiwa yang buta pun masih memiliki harapan, asal ada yang mau menuntun, asal ada cinta yang memanggilnya pulang.
Inilah kasih sayang sejati, tidak berhenti di makam, tetapi mengalir melampaui batas waktu dan ruang. Sebab jiwa hanya bisa kembali ketika ia mengenali cahaya yang dulu pernah ia kenal, dan cahaya itu bisa menyala kembali lewat doa yang sadar, lewat cinta yang jernih, lewat bimbingan yang tulus.
Kemelekatan jiwa terhadap ikatan dunia memang sulit sekali untuk dihilangkan, terutama bagi jiwa-jiwa yang merasa masih memiliki kewajiban yang belum tuntas, keinginan yang belum terpenuhi, atau cinta yang belum selesai. Perasaan “masih ada yang harus dilakukan” membuat jiwa menggenggam dunia erat-erat, seolah kehidupan ini adalah satu-satunya tempat untuk menyelesaikan segala urusan.
Namun, semakin erat jiwa menggenggam dunia, semakin besar pula beban yang ditanggungnya. Dunia, dengan segala keindahan dan penderitaannya pada akhirnya hanyalah jembatan. Ketika kesadaran mulai tumbuh bahwa yang kekal bukanlah yang tampak oleh mata, melainkan yang tinggal di dalam hati, barulah jiwa perlahan belajar melepaskan. Melepaskan bukan berarti melupakan, melainkan menyadari bahwa keterikatan hanyalah ilusi yang menahan jiwa dari kebebasan sejatinya.
Inilah perjuangan spiritual sejati, berjalan perlahan, satu demi satu, memutus benang-benang halus yang mengikat jiwa pada dunia, hingga yang tersisa hanyalah keikhlasan untuk kembali pada Yang Maha Abadi.
“Wahai jiwa-jiwa yang tenang (mutmainnah),
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai.” Al-Fajr (QS. 89), ayat 27-28.
Ayat di atas bukan ditujukan kepada jiwa-jiwa orang yang sudah mati, ayat tersebut untuk jiwa kita yang masih hidup. Bisakah kita mencapai jiwa Muthmainnah tatkala kita melepaskan segala yang kita miliki untuk pergi meninggalkan dunia ini.
Jiwa yang tenang bukan hadir seketika saat ajal menjemput, melainkan ia dibentuk perlahan, dalam perjalanan panjang pencarian makna hidup, keikhlasan, dan penyerahan diri yang utuh kepada Sang Pencipta.
Jiwa yang mutmainnah adalah jiwa yang telah merdeka dan steril dari kegelisahan duniawi. Tidak lagi diperbudak oleh ambisi, tidak lagi terombang-ambing oleh pujian atau cercaan, tidak lagi terpikat oleh kenikmatan fana. Ia telah menemukan pusat keheningan dalam dirinya, tempat di mana ridha Allah menjadi satu-satunya cahaya penuntun.
Untuk mencapainya, kita perlu menapaki jalan pengosongan diri, melepaskan hawa nafsu, membersihkan hati dari dendam dan keserakahan, serta membiarkan kasih-Nya memenuhi setiap rongga jiwa. Maka saat kita diminta untuk “kembali”, itu bukan semata-mata panggilan setelah kematian, melainkan undangan abadi untuk kembali kepada fitrah, kepada ketenangan yang tak tergoyahkan meski dunia terus berguncang.
Jiwa yang tenang telah meninggal sebelum ia mati. Ia telah rela kehilangan segalanya, selain Allah, dan justru di sanalah ia menemukan segalanya.
Di bagian sebelumnya penulis menjelaskan bahwa setiap jiwa menciptakan surga dan nerakanya sendiri-sendiri. Surga dan neraka tercipta oleh kondisi batin, kesadaran, dan pilihan yang dibuat oleh jiwa itu sendiri. Surga terbentuk ketika hati dipenuhi kasih, kedamaian, dan penerimaan, sementara neraka lahir dari kebencian, keterikatan, dan penolakan terhadap kebenaran sejati.
Keduanya bukan sekedar tempat di luar sana, melainkan pantulan dari getaran jiwa yang terus-menerus memancar melalui pikiran, ucapan, dan tindakan. Maka, setiap jiwa sesungguhnya adalah arsitek dari alam keberadaannya sendiri.
Ketika jiwa memilih untuk hidup selaras dengan cinta kasih, kejujuran, dan kesadaran akan kehadiran Ilahi dalam segala hal, maka ia menciptakan ruang batin yang terang, itulah surga. Di sana tidak ada lagi penderitaan, karena segala sesuatu dipahami dalam kerangka penerimaan dan makna yang dalam.
Sebaliknya, ketika jiwa terperangkap dalam ilusi, ego, dikuasai oleh ketamakan, iri hati, dan kebencian, maka dunia batinnya menjadi gelap dan menyiksa, itulah neraka. Jiwa merasa terpisah, terasing, dan terus-menerus dihantui oleh ketidakpuasan yang tak pernah berakhir.
Dengan demikian, surga dan neraka bukanlah hukuman atau hadiah dari luar, melainkan konsekuensi langsung dari bagaimana kesadaran diarahkan. Jiwa yang tercerahkan melihat bahwa ia selalu berada di ambang keduanya, dan hanya melalui transformasi batin ia bisa melangkah ke dalam cahaya yang hakiki.
Penulis pernah berdiskusi dengan seorang teman yang merasa jiwanya pernah berada di surga dan di neraka. Ia melihat surga dengan keindahan yang tak pernah terpikirkan olehnya. Lalu ia mendekati surga itu, namun di dalam surga itu ia tidak merasakan kenikmatan apapun. Lalu ia melihat neraka dengan api hitam yang membakar. Lalu neraka itu dimasukinya, namun di dalam neraka itu ia pun tidak merasakan penderitaan apapun.
Penulis kemudian menjelaskan, bahwa surga dan neraka yang dilihatnya bukan untuk dirinya. Surga dan neraka sudah ada pemiliknya masing-masing. Masing-masing jiwa manusia menciptakan surga dan neraka bagi dirinya sendiri, sesuai dengan getaran kesadaran yang dibangunnya sepanjang hidup.
Jiwa yang telah menapaki jalan penyingkapan diri menyadari bahwa surga dan neraka yang ia saksikan dalam perjalanannya bukanlah tempat yang disiapkan untuknya, melainkan milik jiwa-jiwa lain yang telah menciptakan alam itu melalui pilihan, keyakinan, dan kualitas batin mereka sendiri.
Ini yang perlu kita pahami bahwa setiap jiwa memahat alam keberadaannya dengan ukiran halus dari pikiran dan perasaan. Surga bukanlah warisan, dan neraka bukanlah kutukan. Keduanya adalah pantulan dari tanggung jawab jiwa atas kebebasan yang diberikan pada kita. Maka, kita tidak perlu iri pada keindahan surga yang bukan milik kita, dan tidak takut pada siksa neraka yang bukan hasil ciptaan kita.
Dalam berspiritual, kita perlu kesadaran baru, bahwa yang sejati bukanlah memilih surga atau menghindari neraka, melainkan mengenali sumber penciptaan keduanya di dalam diri. Dan dari kesadaran itu, timbullah kerinduan untuk kembali ke asal, ke “rumah yang tak bernama”, tempat di mana tiada surga, tiada neraka, hanya ada sesuatu.
“Rumah yang tak bernama” bukanlah tempat, bukan pula ruang yang dapat dijangkau oleh pancaindra atau dipetakan oleh pikiran. Ia adalah asal mula dan akhir segala perjalanan. Dalam diamnya, ia memeluk segala yang ada dan yang tiada, menjadi latar sunyi dari seluruh pertunjukan surga dan neraka, suka dan duka, terang dan gelap.
Jiwa yang telah melampaui pencarian akan ganjaran dan hukuman yang tak lagi terikat oleh ilusi dualitas, akan mulai merasakan getar panggilan pulang ke rumah ini. Ia bukan tempat kembali, melainkan kesadaran pulang. Saat jiwa menyadari bahwa ia bukan identitas, bukan keinginan, bahkan bukan pengalaman spiritual yang hebat, saat itulah rumah itu mulai terbuka baginya.
Di sana tak ada nama untuk disematkan, karena nama memisahkan. Tak ada bentuk untuk digambarkan, karena bentuk membatasi. Hanya ada hening yang penuh, kosong yang utuh, cinta yang tak bersyarat. Jiwa tidak melebur ke dalam rumah itu, ia akhirnya mengingat bahwa ia adalah rumah itu sendiri. Ia tak pernah pergi, hanya lupa.
Nah, mungkin saja penjelasan tentang surga dan neraka yang tercipta oleh diri kita sendiri akan bertentangan dengan pendapat umum, yang selama ini dijelaskan oleh guru-guru agama bahwa surga dan neraka telah disiapkan oleh Allah di akhirat sebagai ganjaran dari pahala dan dosa manusia.
Namun mari kita renungkan sejenak, mungkinkah surga dan neraka tidak hanya berada di suatu tempat nun jauh di akhirat, melainkan juga tumbuh dari kesadaran terdalam manusia?
Dalam tafsir yang lebih spiritual dan kontemplatif, surga bisa dimaknai sebagai keadaan batin yang damai, selaras dengan kebenaran, cinta, dan ketulusan. Sementara neraka muncul dari keterasingan batin, dari kebencian, penyesalan, dan penderitaan yang kita pelihara sendiri.
Apakah ini berarti kita menolak keberadaan surga dan neraka seperti yang diyakini umum? Tidak juga. Namun kita membuka kemungkinan bahwa keduanya bisa bersifat ganda, sebagai realitas metafisik yang disiapkan oleh Tuhan, sekaligus sebagai refleksi batiniah yang dicipta oleh kualitas hidup dan kesadaran kita. Seperti cermin, apa yang ada di dalam, terpancar ke luar. Maka, bisa jadi ketika ruh meninggalkan jasad, ia tidak menuju tempat asing, melainkan masuk ke dalam dimensi batiniah yang telah ia bangun sepanjang hidupnya.
Intinya, kita tidak menafikan surga dan neraka sebagai tempat, namun justru memperkaya pemahaman kita, bahwa sejak di dunia ini, kita sedang membangun ‘alam akhirat’ kita sendiri melalui batin dan tindakan. (C2p)
Bersambung
editor's pick
latest video
news via inbox
Nulla turp dis cursus. Integer liberos euismod pretium faucibua