Fenomena Mati Suri Mengajarkan Kita Untuk Mengenal Sejatinya Diri – Part 7
Redaksi – Globaliconnews.id – Suatu malam saya berdiskusi dengan salah satu teman yang memiliki kelebihan berdialog dengan jiwa atau arwah seseorang yang telah lama meninggal dunia. Kebetulan malam itu kami berdua kedatangan arwah atau jiwa yang misterius. Terjadilah dialog batin antara teman saya dengan jiwa tersebut. Dialog terjadi tidak dengan kata-kata melainkan melalui vibrasi.
Hasil dialog yang dilakukan dalam beberapa menit itu menjelaskan bahwa arwah tersebut semasa hidup adalah guru agama yang sering khotbah di majelis-majelis. Semasa hidup ia dikenal dan banyak pengikut. Dan ketika meninggal dunia ia sama sekali tidak bisa melihat. Pandangan matanya ditutupi kabut hitam yang sangat pekat. Arwah guru agama ini merintih perih dan sedih. Teman saya kebingungan, tidak tahu dosa apa yang ia lakukan saat hidup.
Dalam keheningan vibrasi yang semakin dalam, tersingkaplah lapisan-lapisan rasa yang sulit diungkapkan oleh kata. Jiwa sang guru agama itu tampak terombang-ambing dalam kesedihan yang tak ia mengerti. Getaran yang tersalur darinya mengandung kebingungan, penyesalan, dan sebuah pertanyaan yang terus mengendap: “Apa yang telah kulakukan hingga terang itu tertutup dariku?”
Saya mencoba meresapi gelombang itu dan mencoba mengirimkan getaran empati. Dalam hening, seakan ada bayangan samar dari masa silam yang mulai terbuka. Bukan berupa kejadian besar atau dosa terang-terangan, melainkan jejak-jejak halus. Kata-kata yang disampaikan bukan dari cinta, tetapi dari takut dan rasa kuasa. Nasihat yang dilandasi keinginan untuk dihormati, bukan untuk menyentuh hati. Ajaran yang benar, tetapi terasa hampa karena hatinya tak ikut serta. Ucapan yang penuh dengan kebohongan, mengatakan sesuatu yang ia sendiri tidak mengerti.
Dan dalam vibrasi yang menggema dari alam batin, tersirat bahwa sang guru telah mengajar kebenaran, tetapi tanpa mengalami kebenaran itu dalam dirinya sendiri. Ia lebih mencintai peran sebagai guru daripada menjadi murid sejati kehidupan. Ia menuntun banyak orang menuju cahaya, tetapi jalannya sendiri dilalui dalam bayang-bayang harapan agar dikenang, dihormati, dan diagungkan.
Dalam selipan doa kami mengantarkan sang arwah ke tempat yang lebih baik. Perlahan, kesadaran ini mulai menyelinap masuk dalam arwahnya. Vibrasi kesedihan kini bercampur dengan cahaya kecil, benih keikhlasan. Dalam diam, sang guru mulai menangis, bukan karena kabut hitam itu, melainkan karena ia mulai melihat dirinya yang sejati. Itu adalah awal dari pembebasan.
Menurut pengamat penulis diantara 100% jiwa yang meninggal dunia, kemungkinan hanya 30% yang kembali dengan sempurna. Sementara yang 70% perlu mendapat bimbingan atau syafaat dari saudaranya yang masih hidup.
Jiwa seseorang yang belum steril dari ikatan duniawi, ia terombang-ambing di dunianya, dunia yang ia ciptakan sendiri. Setiap jiwa menciptakan surga dan nerakanya sendiri.
Jiwa yang terombang-ambing ini tak menyadari bahwa ia telah melewati batas kehidupan. Ia masih bergulat dengan ambisi, dendam, cinta yang belum selesai, atau penyesalan yang membekas. Waktu baginya tak lagi linier, melainkan menjadi pusaran ingatan dan emosi yang terus berulang.
Dunia yang ia ciptakan adalah cerminan dari kondisi batin terakhirnya saat ajal menjemput. Jika jiwanya dipenuhi amarah, maka ia berada dalam bayang-bayang api batinnya sendiri. Jika ia dipenuhi kasih dan penyerahan, maka hadir cahaya yang membimbingnya perlahan menuju kesadaran.
Namun, tanpa bimbingan dari doa-doa yang tulus, zikir yang ditujukan padanya, atau energi kasih dari kerabat yang masih hidup, ia bisa tersesat dalam ilusi dunianya sendiri. Sebab jiwa, sejatinya tak bisa menyelamatkan dirinya tanpa resonansi cinta dari jiwa lain.
Itulah mengapa leluhur dalam banyak tradisi mengajarkan pentingnya mendoakan yang telah tiada. Karena doa adalah jembatan cahaya, dan syafaat adalah pintu keluar dari dunia buatan itu yang membawa jiwa menuju pengenalan sejati, bahwa ia bukan lagi milik dunia, melainkan milik Yang Abadi.
Tradisi tahlilan dan yasinan yang dilakukan oleh para guru-guru merupakan doa penuntun jiwa, sebuah jalan sunyi yang mengantarkan batin kepada ketenangan dan keberkahan. Di dalam lantunan ayat-ayat suci dan kalimat-kalimat dzikir, tersimpan harapan dan cinta kasih yang tulus bagi arwah yang telah mendahului, sekaligus menjadi pengingat bagi yang masih hidup tentang fananya dunia.
Ritual ini bukan sekedar rutinitas, melainkan laku spiritual yang mengakar dalam budaya dan keyakinan, menautkan antara dunia lahir dan batin, antara yang tampak dan yang gaib. Dalam kebersamaan membaca Yasin, hati para guru dipertautkan dalam niat mulia, menyambung silaturahmi ruhani, mendoakan, dan memperteguh iman.
Di tengah kerendahan hati, para guru menempatkan diri sebagai penjaga warisan spiritual, menyiram jiwa-jiwa dengan doa, agar tetap jernih, terarah, dan mendekat pada Yang Maha Kasih.
Sebagian umat beragama Islam menganggap bahwa tradisi tahlilan dan yasinan adalah sesuatu yang tidak ada contohnya secara langsung dari Rasulullah Muhammad SAW, sehingga dianggap sebagai bentuk bid’ah, yakni penambahan dalam perkara agama yang tidak pernah diajarkan atau dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya. Bagi kelompok ini, segala bentuk ibadah yang tidak memiliki landasan dalil dari Al-Qur’an dan hadits shahih harus ditinggalkan agar kemurnian ajaran Islam tetap terjaga.
Namun, di sisi lain, banyak ulama dan jamaah yang berpandangan bahwa tahlilan dan yasinan termasuk dalam kategori bid’ah hasanah, yakni bid’ah yang baik. Mereka menekankan bahwa selama kegiatan ini berisi doa-doa yang disyariatkan, seperti bacaan Al-Qur’an, dzikir, serta permohonan ampun untuk orang yang telah wafat, maka hal itu tidak menyimpang dari prinsip-prinsip Islam. Tradisi ini juga dinilai membawa manfaat sosial, seperti mempererat ukhuwah Islamiyah, menghidupkan nilai gotong royong, dan menumbuhkan rasa peduli terhadap sesama.
Perbedaan pandangan ini mencerminkan dinamika pemahaman umat Islam dalam mengamalkan ajaran agama, yang dipengaruhi oleh konteks budaya, mazhab, dan pendekatan keilmuan. Selama perbedaan ini dijalani dengan saling menghormati dan tidak saling menyalahkan, maka umat dapat tetap hidup dalam harmoni, seraya terus mencari esensi dari setiap ibadah, mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh ketulusan.
Dalam refleksi spiritual, perdebatan tentang tahlilan dan yasinan membuka jendela perenungan yang lebih dalam, apakah esensi dari ibadah terletak semata-mata pada bentuk dan tata caranya, atau justru pada niat, keikhlasan, dan makna yang menghidupkan setiap lafaz doa?
Ketika para guru dan jamaah berkumpul dalam keheningan malam, melafalkan surat Yasin, bertahlil, dan mendoakan arwah keluarga yang telah tiada, sesungguhnya mereka sedang menapaki jalan batin yang menghubungkan dunia dengan akhirat. Suara yang mereka lantunkan bukan sekedar bacaan, melainkan getar hati yang menyampaikan cinta, rindu, dan permohonan rahmat bagi jiwa-jiwa yang telah pergi.
Tradisi ini, meski tak ditemukan secara eksplisit dalam riwayat Nabi, lahir dari rasa spiritual yang mendalam, rasa kehilangan, rasa cinta kepada sesama, dan keyakinan bahwa doa memiliki daya untuk menerangi kegelapan kubur, untuk menjadi cahaya di alam barzakh. Dalam kerendahan hati, tahlilan menjadi jembatan antara manusia dan Tuhannya, antara dunia yang fana dan kehidupan abadi.
Bagi jiwa yang peka, perbedaan pandangan bukanlah alasan untuk saling menjatuhkan, melainkan undangan untuk merenung, sudahkah setiap ibadah kita benar-benar membangkitkan kesadaran akan kehadiran Ilahi? Sudahkah setiap bacaan kita membawa kita lebih dekat kepada sikap tawadhu, syukur, dan kasih sayang terhadap sesama?
Karena pada akhirnya, Allah menilai isi hati. Dan dalam hati yang tulus berdoa, dalam lisan yang lembut menyebut asma-Nya, tersimpan kedekatan yang tidak bisa diukur oleh perdebatan, melainkan oleh cahaya yang tumbuh di dalam jiwa.
Satu hal lagi dalam pandangan spiritual dan pendapat penulis, jiwa orang yang telah meninggal dunia tidak cukup hanya didoakan, karena doa hanyalah cahaya yang menyertai, bukan kendaraan yang membawa. Jiwa itu perlu diantarkan, dibimbing menuju tempat yang seharusnya ia berada, yakni kembali kepada asal mula, kepada Sang Pencipta yang Maha Pengasih.
Namun, mengantar jiwa bukan perkara ringan. Ia bukan sekedar melafalkan ayat dan dzikir, melainkan suatu proses batin yang hanya dapat dilakukan oleh jiwa-jiwa yang telah menempuh perjalanan pulang. Hanya mereka yang telah merasakan kefanaan, yang telah melewati jalan-jalan sunyi pencarian, yang mampu menjadi penuntun bagi jiwa lain yang tengah mencari cahaya dalam alam antara.
Maka tahlilan bukan sekedar tradisi atau bentuk penghormatan sosial. Ia bisa menjadi upacara sakral, tempat di mana para pembaca doa menjadi penjaga gerbang batin, penunjuk arah bagi jiwa yang bingung, atau bahkan tersesat. Yang membaca pun harus suci niatnya, bersih hatinya, dan tahu jalan pulang. Sebab bagaimana mungkin seseorang menunjukkan jalan ke hadirat Tuhan jika ia sendiri belum mengenal Tuhan.
Dalam keheningan tahlil, bila hati benar-benar hadir, kadang terasa, ada yang mengalir lebih dalam dari sekedar suara. Ada getar, ada cahaya, ada lambaian dari dunia yang lebih halus, yang menunggu untuk dibebaskan, untuk disentuh, untuk diantarkan.
Dan di sinilah hakikat doa menjadi nyata, bukan sebagai ritual semata, tapi sebagai jembatan antara dua dunia. Karena setiap jiwa, entah masih hidup atau telah wafat, sesungguhnya tengah dalam perjalanan yang sama, mencari jalan kembali kepada Tuhan. (C2p)
Bersambung
editor's pick
latest video
news via inbox
Nulla turp dis cursus. Integer liberos euismod pretium faucibua