Fenomena Mati Suri Mengajarkan Kita Untuk Mengenal Sejatinya Diri – Part 11

Last Updated: 23 Mei 2025By Tags: , , , , , , , , ,

RedaksiGlobaliconnews.id – Ruh hakikatnya tidak diciptakan, ia “bagian” dari Tuhan yang dititipkan pada diri manusia. Ruh tidak bergender, tidak ada jenis kelamin, bukan wanita, bukan pria dan juga bukan banci.

Ruh adalah cahaya, bukan cahaya yang bisa ditangkap mata, tapi cahaya hakikat, nur yang berasal dari sumber segala wujud. Ia melampaui bentuk, melampaui waktu, melampaui nama dan rupa. Dalam tubuh manusia, ruh hanya singgah. Tubuh adalah pakaian sementara, dan kehidupan dunia ini adalah pentas bayangan tempat ruh menjalani pengalaman.

Ruh tidak tua, tidak muda. Ia tidak berasal dari bumi, tetapi dari alam yang lebih tinggi, alam perintah: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ruh itu termasuk urusan Tuhanku.” (QS. Al-Isra: 85). Ini menunjukkan bahwa ruh bukan objek duniawi yang bisa dipahami dengan akal semata. Ia misteri suci yang berdenyut dalam setiap hembusan hidup.

Ketika manusia lupa akan asal ruhnya, ia tersesat dalam gelapnya ego, dalam permainan identitas duniawi, laki-laki, perempuan, kaya, miskin, bangsawan, rakyat, semua itu baju-baju fana. Tetapi ruh, ia tetap murni. Ruh tidak menua bersama tubuh. Ruh tidak kotor bersama dosa. Ia hanya terkurung, terselubung, tertidur.

Namun ketika hati bersih dan tirai dunia tersingkap, ruh kembali bersinar, Ia mengenal cahaya asalnya. Dan dalam momen itu, manusia menyadari siapa dirinya sebenarnya, bukan tubuh, bukan nama, tapi percikan Ilahi yang dititipkan, untuk mengenal, mencintai, dan kembali kepada-Nya.

Ruh adalah setetes air dari lautan samudra. Ia adalah energi yang menghidupi diri kita. Kita hidup karena ia bersemayam di dalam tubuh ini, sebuah cahaya halus yang tak terlihat mata, namun nyata dalam gerak, napas, dan kesadaran.

Tanpa ruh, tubuh hanyalah tanah yang kembali kepada tanah. Tapi dengan ruh, kita menjadi makhluk yang bisa mencinta, merenung, mencari makna. Ruh membawa ingatan akan asal mula kita, bahwa kita bukan semata daging dan tulang, melainkan percikan dari Yang Maha Hidup.

Ia rindu pada asalnya. Maka seluruh perjalanan hidup ini sejatinya adalah perjalanan pulang. Pulang ke samudra tempat ia berasal. Pulang ke Cahaya yang tak pernah padam.

Ruh yang tertidur di balik kabut dunia mulai terjaga ketika suara dari dalam lebih nyaring daripada hiruk-pikuk luar. Kadang ia dibangunkan oleh duka, kadang oleh sunyi, kadang oleh pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh logika: “Untuk apa aku hidup?”
Saat itulah ruh mulai menggeliat, seperti benih yang merasakan panggilan cahaya meski masih terpendam dalam tanah gelap. Hati yang dulunya hanya menjadi cermin debu mulai memantulkan kembali cahaya aslinya.

Ruh mengenali bahwa segala kegelisahan, kesepian, bahkan pencarian cinta di dunia ini, hanyalah gema dari kerinduan terdalam, kerinduan untuk pulang.

Ruh tidak mencari surga dengan iming-iming kenikmatan, tidak pula takut neraka karena nyala apinya. Ruh hanya ingin pulang kepada Sumber, kepada Keabadian, kepada Kasih yang tak berbatas. Karena itu ruh sejati tidak dibangkitkan oleh ancaman atau hadiah, tapi oleh getaran cinta dan pengenalan hakikat.
Ia mulai menangkap isyarat-isyarat Tuhan yang tersembunyi dalam daun yang gugur, dalam desir angin, dalam mata anak kecil, dalam detik yang hening. Semuanya menjadi kitab, semuanya menjadi doa.

Perjalanan ruh adalah perjalanan kembali, dari banyaknya menuju satu, dari luar menuju dalam, dari rupa menuju hakikat. Bukan dengan kaki ia melangkah, tapi dengan kesadaran yang makin dalam. Semakin ringan beban dunia, semakin dekat ia dengan rumahnya.

Namun jalan pulang bukan tanpa rintangan. Ego akan mengajak kembali kepada bayangan. Dunia akan menawari kenyamanan palsu. Tapi ruh yang terjaga tidak akan tertipu. Ia tahu ini semua hanya mimpi panjang, dan ia ingin bangun. Maka ia terus berjalan, mengikis selimut ilusi, menanggalkan nama, melepas identitas. Hingga yang tersisa hanyalah keheningan suci, tempat ia menyatu kembali dalam lautan cahaya yang tak bernama, dan lenyap sebagai “aku”, hanya ada Dia.

Tidak semua ruh mudah terjaga. Banyak yang masih tenggelam, tertidur lelap dalam buaian dunia. Mereka terperangkap dalam nafs atau jiwa yang terbalut oleh keinginan, amarah, syahwat, ketamakan, dan rasa memiliki. Nafs ibarat tirai tebal yang menghalangi cahaya ruh untuk bersinar.

Dalam keadaan ini, ruh menjadi samar, seolah tertutup lapisan demi lapisan kabut. Nafs ammarah, jiwa yang condong kepada kejahatan, Nafs lawwamah, jiwa yang mulai menyesal namun belum bebas, Nafs mulhamah, jiwa yang mulai menerima ilham, dan seterusnya… hingga ke nafs muthmainnah, jiwa yang tenang, damai, telah pulang.

Ruh yang terjebak dalam nafs tidak mengenal dirinya. Ia merasa cukup dengan kepemilikan, harta, jabatan, pengakuan. Ia merasa hidup hanya untuk mengumpulkan, mengalahkan, dan dibanggakan. Padahal itu semua hanya bayangan, fatamorgana di padang fana.

Namun, Tuhan Maha Penyayang. Sekali waktu, Tuhan akan mengetuk hati ruh dengan cobaan, kehilangan, atau sunyi yang dalam. Itulah panggilan-Nya. Bagi yang mendengar, itulah awal kebangkitan.

Pertemuan ruh dengan Tuhan bukanlah peristiwa fisik. Ia adalah lenyapnya semua yang bukan Tuhan. Ia terjadi dalam keheningan batin, ketika ruh tak lagi berkata “aku”, melainkan hanya “Dia”.

Para arifbillah menyebut momen ini sebagai fana, lebur, sirna dari wujud palsu, dan kemudian baqa, tinggal bersama-Nya dalam kesadaran hakiki. Dalam bahasa simbolik, pertemuan ini dilukiskan sebagai, Lautan cahaya. Ruh menyatu dalam samudra Nur, tanpa batas, tanpa arah.

Pertemuan itu bukan akhir, melainkan awal dari kehidupan sejati. Ruh tak lagi mencari, karena ia telah menemukan. Ia tidak lagi bicara tentang Tuhan, tapi bersama-Nya, dalam-Nya, dan oleh-Nya. Menyatu untuk hidup dan menghidup

Menuntun jiwa yang telah lama tiada, tidak cukup hanya didoakan saja, perlu dituntun, diarahkan pada jalan yang benar. Ia seperti orang buta yang ingin ke suatu tempat. Apakah orang buta tahu tujuannya hanya dengan memberinya penjelasan? Tentu saja tidak. Ia perlu dibimbing, diarahkan dengan suara yang dikenalnya, dengan sentuhan yang menuntunnya melangkah satu per satu. Bila perlu diantarkan ke tempat tujuan. Dan yang mengantarkannya tentu saja yang telah mengenal jalan pulang.

Doa adalah panggilan, tetapi bimbingan adalah jalan. Tanpa ada yang menyambutnya, membimbingnya keluar dari gelap dan kabut, ia hanya akan berputar dalam lingkaran yang sama, mengira ia mendekat, padahal sesungguhnya tetap tersesat.

Menuntun jiwa bukanlah sekedar membacakan ayat dan harapan dari jauh. Menuntun jiwa adalah menyusuri lorong-lorong sunyi batinnya, menyapa luka-lukanya yang belum sembuh, menunjukkan padanya bahwa masih ada arah pulang. Seperti seorang penuntun yang menyusuri kabut malam sambil membawa lentera, begitu pula tugas kita bagi jiwa-jiwa yang terlupa, menjadi cahaya kecil di ujung gelapnya kesadaran mereka.

Karena jiwa, meskipun telah lama tiada, tetap mendengar. Dan jika ada satu suara yang dapat menembus batas kematian, itu adalah suara kasih yang tulus, yang tidak hanya mendoakan, tetapi juga hadir, menyentuh, membimbing.

Surah Al-Isra’ ayat 72:
“Dan barangsiapa di dunia ini buta (hatinya), maka di akhirat ia akan lebih buta dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).”

Maka saat kematian datang, dan realitas akhirat terungkap, jiwa yang terbiasa hidup dalam kegelapan tetap dalam kebutaan. Bahkan lebih buruk: “lebih tersesat dari jalan”, karena di akhirat tidak ada lagi pilihan, tidak ada kesempatan untuk bertobat. Yang tersisa hanya kesadaran penuh, tetapi sudah terlambat.

Jiwa yang buta matanya ini bukan hanya buta dalam mengenal Tuhan. Tetapi juga jiwa yang masih ada kemelekatan terhadap dunia, hutang piutang, persoalan hidup, maka ia akan kesulitan untuk mencari jalan pulang, jiwa ini perlu dituntun. Karena selama masih ada kemelekatan, selama hatinya masih terikat oleh beban dunia, hutang yang belum terbayar, janji yang belum ditepati, luka yang belum termaafkan, ia akan seperti burung yang sayapnya diikat rantai. Ia ingin terbang, tetapi tertahan oleh sesuatu yang tak kasat mata, sesuatu yang berasal dari dunia yang telah ia tinggalkan, namun masih menggenggamnya erat.

Menuntun jiwa yang tersesat memerlukan ketulusan yang dalam. Kita bicara padanya dalam keheningan malam, kita panggil namanya dalam jernih air wudhu, kita tuntun ia dalam langkah-langkah doa, dalam amal yang diniatkan untuk membantunya. Jangan kita biarkan ia terkatung-katung di persimpangan antara dunia dan akhirat. Sebab kadang, satu jiwa yang tersesat, hanya butuh satu tangan yang mengulurkan kasih, agar ia tahu ke mana harus pulang.

Hidup di dunia adalah waktu bagi jiwa untuk belajar melihat. Melihat bukan dengan mata, tapi dengan hati yang dibasuh cahaya. Maka jangan biarkan hati buta, karena di akhirat tidak ada matahari untuk menuntun, hanya terang dari dalam jiwalah yang bisa menyinari jalan pulang.

Surah Taha: 124–126:
“Wahai Tuhanku, mengapa aku dibangkitkan dalam keadaan buta, padahal dahulu aku melihat?”
Begitu jeritnya, dalam kebingungan yang pekat. Tapi jawaban yang datang bukanlah belas kasihan.
“Karena ayat-ayat-Ku datang kepadamu, dan engkau melupakannya.”
“Maka hari ini, engkau pun dilupakan.”

Ini bukan sekedar kebutaan mata. Ini adalah kebutaan batin, simbol dari jiwa yang menolak untuk melihat cahaya kebenaran yang terus menerus mengetuk, lembut tapi tegas, sepanjang hidupnya. Ia memilih sibuk dengan dunia, hutang yang tak selesai, dendam yang tak padam, cinta yang mengikatnya pada tanah. Ia berjalan dalam terang palsu, tetapi hakikatnya menutup mata dari Nur Ilahi.

Buta di akhirat adalah wujud nyata dari jiwa yang kehilangan orientasi spiritual. Ia seperti kompas yang jarumnya berputar tanpa arah. Surga baginya adalah kisah yang terlalu asing, sedang neraka adalah bayangan yang dulu tak digubris. (C2p)

Bersambung

editor's pick

latest video

news via inbox

Nulla turp dis cursus. Integer liberos  euismod pretium faucibua

Leave A Comment