Fenomena Mati Suri Mengajarkan Kita untuk Mengenal Sejatinya Diri

Last Updated: 22 Mei 2025By Tags: , , , , , , ,

RedaksiGlobaliconnews.id – Bagian 5 – Pengalaman mati suri yang dialami sebagian orang, adalah pengalaman batiniah yang perlu dipahami secara mendalam. Namun sayangnya, pengalaman tersebut dijelaskan hanya sebatas cerita tanpa makna. Seharusnya pengalaman mati suri mampu menggugah seseorang untuk menggali lebih dalam lagi tentang arti kehidupan dan mencari tahu kebenarannya yang hakiki.

Mati suri bisa juga menjadi jendela untuk menelaah dimensi lain dari dalam diri, yakni tentang jiwa, kinerja otak, alam bawah sadar, pikiran, ilusi dan persepsi dari luar diri. Namun, banyak yang belum paham tentang jati dirnya, sehingga mereka belum bisa terbebas dari ikatan ego yang membelenggu kesadarannya. Selain itu mereka terlalu larut dalam doktrin dan dogma yang membuat dirinya tidak berpikir jernih.

Ketika jiwa seseorang keluar dari raganya melalui beberapa pintu, dan ini belum banyak orang yang mengetahuinya. Saat seseorang mengalami mati suri atau mati yang sebenarnya, maka jiwa akan mencari jalan untuk keluar.

Jiwa tidak serta-merta lepas begitu saja. Ia bergerak perlahan, seperti uap tipis yang mencari celah antara tubuh dan dunia yang tak terlihat. Menurut beberapa kepercayaan dan pengalaman mistik penulis yang mengalami mati suri, jiwa memiliki beberapa pintu keluar dari raga, bukan hanya satu. Tujuh lubang di kepala itulah jalan keluarnya jiwa.

Setiap pintu yang dilalui jiwa akan mempengaruhi perjalanan selanjutnya. Ada jiwa yang keluar melalui mulut, ada yang keluar melalui hidung, ada juga yang keluar melalui telinga kanan atau kiri, bahkan ada yang keluar melalui mata. Jiwa bergerak dari ujung jempol kaki naik ke atas, mencari pintu untuk keluar.

Ada jiwa yang dipaksa untuk keluar, dan ada jiwa yang keluar dengan sendirinya. Jiwa yang tidak tahu jalan keluar akan dijemput oleh malaikat pencabut nyawa, kemudian dipaksa untuk keluar. Jiwa yang dipaksa keluar inilah yang kadang menimbulkan rasa sakit. Rasa sakit tersebut disebabkan karena jiwa “berpegangan” erat pada raga yang sudah tak layak dihuni. Maka malaikat Izrail pun turun, bukan dengan kelembutan, melainkan dengan ketegasan yang mengguncang seluruh tubuh, urat demi urat terputus, nyeri demi nyeri disusuri.

Saya menganalogikannya seperti ini: ketika kita menginap di sebuah hotel yang mewah atau tempat penginapan, tentu ada waktunya kapan kita masuk dan kapan kita harus pergi dari tempat penginapan. Waktu inilah usia kita. Dan ketika tiba waktunya untuk keluar dari tempat penginapan, maka suka tidak suka, mau tidak mau kita harus keluar.

Ada yang sadar kemudian keluar dengan sendirinya, dengan hati yang damai dan bahagia. Namun ada yang tidak sadar masih nyaman di tempat penginapan. Nah, orang-orang seperti ini akan mendapatkan peringatan, jika mengabaikan maka ia akan dijemput petugas keamanan, dan dipaksa untuk keluar. Maka terjadilah tarik-menarik antara ingin bertahan di tempat itu dan dipaksa keluar. Keinginan untuk bertahan inilah yang menimbulkan rasa sakit dan perih tak terhingga.

Sebab, seseorang yang akan meninggal dunia, ia harus rela melepaskan semua yang dimilikinya. Keluarganya, harta benda, jabatan, dan ini tidak mudah. Perlu proses yang panjang bagi jiwa untuk melepaskan semuanya. Jangankan meninggal dunia, kita keluar rumah saja apabila ada barang berharga yang tertinggal pasti kita akan kembali lagi untuk mengambilnya. Apalagi melepaskan semua ikatan duniawi yang telah lama bersama, tentu tidaklah mudah.

Kondisi seperti inilah yang menyebabkan jiwa timbul keraguan dan kecemasan untuk keluar dari raga. Maka saat itulah sang jiwa akan dipaksa untuk pergi, pergi meninggalkan dunia. Namanya saja meninggal dunia, maka ia harus meninggalkan dunia.

Jiwa yang dipisahkan dengan paksa dari raganya, akan menyebabkan rasa sakit dan rintihan yang tidak terdengar oleh telinga manusia, hanya dirasakan oleh alam. Sebab perpisahan antara jiwa dan raga bukan sekedar peristiwa biologis, melainkan permulaan dari perjalanan yang lebih panjang, menuju kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik tirai dunia.

Di bagian ini saya akan menjelaskan tentang tanda-tanda kematian dan prosesi keluarnya jiwa dari tubuh. Semua orang yang meninggal dunia diberi tanda-tanda kematian. Namun tidak semua orang tahu tanda-tanda kematian ini. Dan tatkala kematian itu menjemput ia bingung akan kemana.

Tidak ada satupun manusia yang tahu kapan ia akan meninggal. Namun tanda-tanda kematian bisa diketahui. Seperti tanda-tanda akan turunnya hujan, terjadinya gempa, maka alam akan memberitahu. Nah kematian pun demikian, tanda-tanda itu ada pada diri kita. Ketika tanda-tanda itu datang maka kita perlu mempersiapkan diri dengan hati yang damai dan bahagia.

Tanda-tanda kematian datang dalam bentuk fisik yang bisa kita rasakan. Jika mengetahui tanda-tanda ini, maka saat kematian datang hati pun terasa lebih tenang, seolah dunia tak lagi begitu menggoda. Kadang, seseorang yang akan pergi justru tampak lebih damai, lebih pemaaf, dan lebih ikhlas dalam menghadapi hidup.

Alam pun turut berbicara melalui keheningan yang berbeda, melalui perasaan hampa yang tak biasa, atau melalui isyarat yang hanya dimengerti oleh jiwa yang peka. Saat tanda-tanda itu datang, bukan ketakutan yang seharusnya tumbuh, melainkan kesiapan. Kesiapan untuk kembali pulang, untuk menghadap-Nya dengan membawa bekal terbaik: amal, cinta, dan keikhlasan.

Semua orang yang akan meninggal dunia dalam keadaan apapun prosesi keluarnya jiwa melalui ujung jempol kaki naik ke atas. Lalu keluarnya jiwa dari 7 pintu yang ada di kepala. Tujuh pintu itu adalah: satu lubang mulut, dua lubang hidung, dua lubang telinga, dan dua lubang mata. Apabila jiwa tidak mengetahui pintu keluar yang sebenarnya, maka salah satu dari 7 lubang di kepala itulah ia akan keluar.

Ada jiwa yang keluar dari mulut, semua yang diucapkannya mempengaruhi perjalanan selanjutnya. Ada jiwa yang keluar melalui lubang hidung, semua yang dirasakannya, cemas, gelisah, ketakutan dan rasa sedih, akan mempengaruhi perjalanan selanjutnya. Ada pula jiwa yang keluar melalui lubang telinga kiri atau kanan, semua yang ia dengar akan mempengaruhi perjalanan selanjutnya. Dan ada pula jiwa yang keluar melalui lubang mata kiri atau kanan, semua yang dilihatnya akan mempengaruhi perjalanan selanjutnya. Dan ada satu pintu yang sebenarnya harus dilalui. Namun hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui pintu tersebut. Dari pintu itulah Tuhan memasukkan ruh, dan ruh akan keluar dari pintu yang sama.

Jangan biarkan jiwa kita keluar dari 7 pintu yang salah. Maka 7 pintu tersebut harus ditutup, agar keluarnya jiwa bersama ruh di pintu yang benar. Pertanyaannya adalah: yang keluar dari raga jiwa dulu atau ruh dulu? Tentu saja jiwa dulu yang keluar dari raga, karena jiwa menyimpan kesan dan rasa.

Rasa adalah cermin dari pengalaman hidup. Jiwa mencatat setiap getar emosi, setiap luka, setiap cinta, dan setiap ketakutan. Maka ketika tiba waktunya untuk meninggalkan raga, jiwa lebih dahulu terangkat, membawa seluruh kesan yang pernah dialami selama hidup.

Ruh, sebagai inti suci dari kehidupan yang ditiupkan oleh Tuhan, tidak membawa beban pengalaman. Ia bersih, murni, dan hanya menunggu perintah untuk kembali ke asal. Maka penting bagi jiwa untuk tidak keluar dari tujuh pintu yang salah, pintu-pintu hawa nafsu, amarah, kesombongan, iri, kebencian, syahwat, dan keputusasaan. Bila jiwa melewati pintu yang salah, maka ia tersesat sebelum ruh mengikutinya.

Menutup tujuh pintu itu bukan sekedar menahan diri, tapi menyucikan jiwa agar saat ruh menyusul, ia menemukan jiwa dalam keadaan terang dan berserah. Hanya dengan begitu, keduanya dapat kembali melalui satu pintu yang benar: pintu cahaya, pintu ketundukan total kepada Ilahi. Inilah yang disebut jiwa Mutmainnah, jiwa yang ikhlas dan steril dari ikatan duniawi.

Maka hiduplah di dunia ini sebagai “penjaga” pintu-pintu itu. Tujuh pintu yang nyata. Apabila tidak dijaga maka dampaknya dalam laku hidup. Satu per satu 7 pintu harus kita kenali secara nyata maupun batin: pintu amarah yang membakar nurani, pintu kesombongan yang menutup cahaya, pintu syahwat yang mengaburkan arah, pintu iri yang mencuri ketenangan, pintu kebencian yang menghitamkan cinta, pintu hawa nafsu yang menyesatkan langkah, dan pintu keputusasaan yang memutus harapan kepada Tuhan. Semuanya bersumber dari 7 pintu yang ada di kepala.

Setiap kali kita lengah, jiwa beringsut mendekati pintu-pintu itu, terpikat oleh bisikan dunia. Jika dibiarkan terbuka, jiwa akan terperangkap dalam labirin gelap, tersesat sebelum ruh sempat mengajaknya pulang. Sebab itu, tugas kita bukan hanya menjaga raga, tetapi menyucikan jiwa agar tetap lembut, tetap sadar, tetap merindukan cahaya asalnya.

Ruh tak bisa tersesat, sebab ruh adalah titipan Tuhan. Tapi ruh tidak akan kembali sendirian. Ia menunggu jiwa untuk bersatu. Maka jika jiwa terjerat dalam gelap, ruh hanya bisa menanti di ambang, sedih, hening, tak berdaya dalam kehendak-Nya.

Dan saat jiwa telah siap, telah bersih dari debu dunia, telah menutup tujuh pintu itu rapat-rapat, barulah ruh mengajaknya pulang. Bukan melalui pintu gelap, tapi lewat pintu yang satu dan benar, pintu cahaya, yang hanya dibuka oleh keikhlasan, penyerahan, dan cinta kepada Yang Maha Abadi.

Dengan menutup ketujuh pintu ini satu per satu, kita sedang menyiapkan jiwa untuk pulang dengan damai. Agar kelak, saat ruh datang menjemput, ia temukan jiwa dalam keadaan ringan, jernih, dan siap menembus satu pintu yang benar, pintu kembali kepada-Nya.

Umumnya manusia tidak mengetahui pintu yang benar saat kembali. Ia keluar dari pintu-pintu yang salah, sehingga yang ia temui nuansa gelap dan tersesat. Jiwa-jiwa seperti inilah yang perlu mendapatkan syafaat dari saudaranya yang masih hidup. Namun terkadang juga saudaranya yang masih hidup belum mengetahui pintu keluar yang benar, alias buta.

“Dan barang siapa di dunia ini buta, maka di akhirat nanti dia akan lebih buta dan lebih tersesat dari jalan yang benar.”
(QS. Al-Isra: 72)

Para kyai, para ustad, para ahli kitab, dan para guru-guru agama lainnya, kadang tidak paham dengan firman Tuhan tersebut. Mereka menafsirkan firman Tuhan dengan berbagai macam persepsi. Mereka mengira hanya dengan mengerti bahasa Arab, maka ia mengerti maksud dari firman Tuhan tersebut.

Padahal firman Tuhan bukan sekedar rangkaian kata dalam bahasa Arab yang diterjemahkan secara harfiah. Ia adalah petunjuk yang hidup, yang memerlukan hati yang bersih, jiwa yang tunduk, dan akal yang jernih untuk memahaminya.

Buta yang dimaksud dalam ayat itu bukan semata-mata buta mata, tetapi buta terhadap kebenaran, buta terhadap pengenalan diri kepada Tuhan, buta terhadap cahaya petunjuk, buta karena kesombongan ilmu dan fanatisme terhadap tradisi. Seolah kemampuan dirinya dalam beragama mengalahkan kemampuan siapa pun. Terhadap orang-orang seperti ini Tuhan tidak akan menambahkan pengetahuan dan ilmu apapun, karena mereka merasa telah cukup dengan gelar yang melekat pada dirinya.

Tuhan memperingatkan bahwa siapa yang tidak mampu melihat Diri-Nya di dunia, siapa yang menutup Qolbunya dari cahaya-Nya, maka di akhirat kelak ia akan lebih buta, lebih jauh dari cahaya, dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.

Ironisnya, banyak orang yang merasa sudah melihat hanya karena mereka memiliki gelar, jabatan, atau pengaruh. Mereka mengira sudah memahami kebenaran karena menguasai tafsir, padahal hati mereka tertutup oleh ego dan kepentingan. Mereka lupa bahwa kebenaran bukan untuk dikuasai, tapi untuk diikuti dengan rendah hati.

Maka belajarlah pada guru yang benar, jangan belajar pada guru yang hanya ahli kitab. Carilah guru ahli ma’rifat yang bukan hanya bergelar ahli ma’rifat saja, tetapi benar-benar mengetahui tujuan ma’rifat. (C2p)

Bersambung

editor's pick

latest video

news via inbox

Nulla turp dis cursus. Integer liberos  euismod pretium faucibua

Leave A Comment