Fenomena Mati Suri Mengajarkan Kita Untuk Mengenal Sejatinya Diri – Part 6
Redaksi – Globaliconnews.id – Bagian 6
Ilmu ma’rifat bukan sekedar teori atau hafalan istilah, melainkan pengalaman batin yang lahir dari penyucian hati, penempaan diri, dan bimbingan langsung dari guru yang telah menempuh jalan itu dengan sebenar-benarnya.
Guru ma’rifat sejati tidak sibuk memamerkan gelar atau mendebatkan dalil, melainkan membimbing murid agar mengenal siapa dirinya, siapa Tuhannya, dan bagaimana menjalani hidup dalam kesadaran akan kehadiran-Nya.
Maka berhati-hatilah dalam memilih guru. Bukan yang manis bicaranya, tetapi yang bening hatinya. Bukan yang memikat dengan keramaian pengikut, tetapi yang hening dalam ketundukan kepada Allah.
Sebab ilmu ma’rifat bukan untuk dibanggakan, tapi untuk merendahkan hati. Bukan untuk menjauh dari dunia, tetapi untuk hidup di dunia dengan cahaya Tuhan di dalam hati.
Ilmu ma’rifat tidak bisa dicapai dengan hafalan atau bacaan apapun. Ma’rifat bukan hafalan, ma’rifat bukan ucapan atau wiridan, ma’rifat juga bukan sebutan.
Ma’rifat adalah penyaksian. Ia lahir dari hati yang luluh, dari jiwa yang lebur dalam kehadiran-Nya. Bukan karena banyaknya dzikir di lidah, tapi karena hidupnya dzikir di qalbu. Bukan karena rajinnya membaca kitab, tapi karena matinya ego dan hidupnya rasa.
Ilmu ma’rifat tidak bisa dibeli dengan kepintaran, tidak bisa ditukar dengan gelar atau pangkat. Ia adalah anugerah bagi hamba yang rela melepaskan segalanya, yang ridha tak dikenal manusia asalkan dikenal oleh Tuhannya.
Ma’rifat bukan jalan ramai, ia sunyi, ia sepi,
ia jalan para pecinta sejati yang sanggup terbakar demi melihat cahaya. Dan tak semua sanggup, sebab syaratnya bukan kuat,
tapi hancur… lalu menyatu.
Ciri-ciri orang yang telah sampai pada ma’rifat bukan terlihat dari pakaiannya, bukan pula dari sorot matanya yang tampak khusyuk di depan manusia. Ia tak sibuk mengaku, bahkan sering tampak biasa seperti kita, karena yang luar telah ia lepas demi menata yang dalam.
Orang yang ma’rifat hatinya tenang, karena ia telah melihat bahwa segalanya dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ia tidak tergesa, tidak terburu membenarkan diri, karena ia tahu kebenaran sejati bukan untuk dimiliki, tapi dihidupi. Ia tidak merasa tinggi walau mengerti, dan tidak merasa rendah walau tidak dikenal.
Lidahnya ringan memaafkan, karena ia tahu semua adalah kehendak-Nya. Matanya lembut memandang, karena tak lagi melihat dunia sebagai musuh. Langkahnya pelan namun pasti, karena ia berjalan bukan atas ambisi, tapi atas petunjuk yang sunyi.
Ia tidak mengharapkan surga karena pahala, tidak pula takut neraka karena siksa, tapi karena cinta yang mendalam, ia hanya ingin dekat dan pulang pada-Nya.
Itulah mereka, orang-orang ma’rifat. Jarang bicara tentang ma’rifat, karena mereka sedang meniti dalamnya.
Kemudian, apa korelasinya antara ma’rifat dengan perjalanan mati suri?
Ma’rifat dan mati suri punya benang merah dalam konteks pengalaman batin dan kesadaran ruhani. Keduanya berbicara tentang perjumpaan, bukan dengan dunia luar, tetapi dengan dimensi terdalam dari eksistensi manusia dan realitas Ilahi.
Mati suri adalah peristiwa ketika seseorang berada di ambang kematian, namun jiwanya mengalami “perjalanan” melihat cahaya, merasakan kedamaian, atau bahkan menyaksikan hal-hal gaib yang tak terjangkau akal biasa. Banyak yang kembali dari mati suri mengaku hatinya berubah total, seolah diberi kesempatan “melihat kebenaran”.
Ma’rifat adalah keadaan di mana seseorang menyaksikan dengan mata hati hakikat, melihat bahwa tak ada yang nyata selain Allah. Orang yang ma’rifat telah “mati sebelum mati”, sebagaimana sabda Nabi: “Mūtū qabla an tamūtū”, “Matilah sebelum kalian mati.”
Nah, korelasi antara keduanya adalah: keduanya bersifat transformasional (membawa perubahan). Setelah mati suri atau mencapai ma’rifat, seseorang biasanya tak lagi melihat dunia dengan cara yang sama. Nilai hidup berubah, ambisi dunia mengecil, dan cinta kepada Ilahi menguat.
Keduanya terjadi dengan ‘kematian ego’. Mati suri memisahkan jiwa dari jasad untuk sesaat, ma’rifat memisahkan hati dari keterikatan dunia meski raga masih hidup.
Keduanya membuka tabir realitas. Mati suri kadang memberi kilasan tentang alam barzakh atau kebenaran akhirat. Ma’rifat memberi pemahaman batin tentang bahwa segala sesuatu adalah dari dan menuju Allah.
Namun, ma’rifat lebih dalam dan konsisten. Kalau mati suri adalah kejadian luar biasa yang bisa terjadi tanpa kesengajaan. Maka makrifat adalah hasil dari perjalanan panjang, dengan suluk, mujahadah, zikir, dan bimbingan mursyid sejati.
Dan pengertiannya adalah: jika mati suri adalah tamu yang datang, ma’rifat adalah rumah yang dibangun.
Mungkin kita pernah melihat atau mendengar kotbah dari guru-guru agama di atas mimbar, bahwa saat ajal seseorang datang, ruhnya akan ditarik oleh malaikat izrail dari tubuhnya. Lalu apabila ruh orang tersebut banyak berbuat salah, maka akan menerima azab yang pedih dari Allah di akhirat.
Ruh yang jahat akan dimasukkan ke neraka dan disiksa oleh malaikat penjaga neraka. Ruh yang baik akan mendapatkan nikmat surga ditemani 72 bidadari yang cantik jelita seperti artis korea. Sementara ruh yang wanita akan masuk surga menjadi ratu buaya, eh, ratu bidadari.
Para guru agama yang mengaku ulama, membedah dalil ini, bahwa bukan 72 bidadari, ada yang bilang lebih dari 72 bidadari, ada yang bilang tidak sampai 72 bidadari. Ruh pria akan bercinta dengan bidadari-bidadari yang selalu perawan. Mereka diciptakan untuk pemuas nafsu birahi yang tertunda di dunia. Lalu air maninya menjadi kristal butiran mutiara yang berkilauan. Keringatnya menjadi harum aroma kasturi seribu bunga.
Di surga, bidadari dan ratu bidadari cantiknya tak pernah luntur, kulitnya tetap kencang, tidak menua, selalu remaja, ia tetap perawan walaupun sering bercinta. Bahkan menjadi istri seorang ustad satu pintu surga terbuka dengan ranjang emas berselimut sutra ungu.
Mari kita renungi secara mendalam bahwa kenikmatan surga, azab neraka, bahkan gambaran bidadari, bukanlah kebenaran lahiriah yang mutlak, melainkan simbol yang menuntun pada makna batin yang lebih tinggi.
Dalam kitab-kitab suci, kita membaca tentang sungai-sungai mengalir di bawah surga, permadani sutra, buah-buahan tanpa musim, dan bidadari bermata jeli. Kita juga membaca tentang api yang menyala, rantai yang membelenggu, makanan berduri, dan jeritan abadi dari para penghuni neraka. Namun, benarkah semua itu harus dipahami secara harfiah? (Harfiah berarti apa adanya, sesuai dengan kata-kata aslinya, atau tanpa makna kiasan.)
Para arif dan ulama ma’rifat menyadari bahwa apa yang tertulis dalam wahyu bukan sekedar deskripsi lahiriah. Itu adalah bahasa simbol, metafora ilahiah, yang hendak membimbing manusia dari kulit menuju inti, dari ketakutan jasad menuju kesadaran ruh.
Surga bukan sekedar tempat penuh kenikmatan, tapi adalah kondisi jiwa yang telah menyatu dalam ketenangan bersama Tuhan. Neraka bukan hanya tempat siksa, tapi juga keadaan batin yang tersiksa oleh keterpisahan dari Cahaya-Nya. Dan bidadari bukan semata sosok perempuan cantik, melainkan manifestasi keindahan ruhani yang dijanjikan bagi jiwa yang telah disucikan.
Bila kita memaknai surga hanya sebagai pesta tak berkesudahan, maka kita menyederhanakan tujuan penciptaan. Bila kita takut kepada neraka hanya karena apinya, bukan karena jauhnya dari rahmat Allah, maka kita belum mengenal cinta sejati. Bila kita mengejar bidadari namun tidak menundukkan nafsu, maka kita belum berjalan di jalan para pecinta.
Orang yang berjalan di jalan ruhani tak lagi mencari surga karena kenikmatannya. Ia mencari Tuhan, karena dari sanalah semua kenikmatan bermula. Ia tidak takut neraka karena sakitnya, tapi karena kehilangan kedekatan dengan Sang Kekasih. Baginya, bahkan jika surga itu tanpa sungai, tanpa istana, tetapi penuh dengan kehadiran-Nya, maka itulah surga yang sesungguhnya.
Maka, jangan berhenti di permukaan. Jangan jadikan simbol sebagai tujuan. Tujuan kita bukanlah kenikmatan, melainkan perjumpaan. Bukan mahkota dan singgasana, tapi wajah-Nya Yang Mulia. Yang sejati bukanlah bentuk, tapi makna. Dan makna hanya terbuka bagi hati yang bersih. (C2p)
Bersambung
editor's pick
latest video
news via inbox
Nulla turp dis cursus. Integer liberos euismod pretium faucibua